Tidak Peka
Mungkin hatiku sudah tertutup peluh.
Sejak kuhabiskan sedih dan air mataku saat ibu pergi untuk selamanya, semenjak itu pula aku jadi tidak peka merasakan kesedihan yang terlihat atau terdengar oleh panca inderaku.
Air mata juga sepertinya ikut-ikutan menjadi tidak responsif akan keadaan, entah mengapa aku merasa menjadi orang yang tidak peka terhadap keadaan sedih atau bisa dikatakan tidak berperasaan.
Bagiku, hari itu. Hari dimana ibu pergi, adalah hari yang kuhabiskan segalanya. Habis perasaan sedihku, habis air mataku, habis rasa belas kasihku. Aku melihat dunia saat ini tidak seperti dulu, yang aku jalani saat ini hanya mencari apa yang bisa membuatku senang. Mendapatkan apa yang ingin aku raih.
Untuk urusan hati, aku hanya mengharapkan seseorang yang bisa menjagaku dan tidak mematahkannnya. Tidak perlu seseorang yang sempurna untuk hal itu. Kesempurnaan yang hakiki hanya milik-Nya, Tuhan Yang Esa. Segala yang dimiliki oleh manusia hanyalah titipan. Tapi sayangnya Tuhan tidak memberikan porsi yang sama pada setiap hamba-Nya. Ada yang diberikan begitu banyak kelebihan dan ada pula yang serba kekuragan. Tentu saja bukan tanpa alasan, Tuhan mengetahui apa-apa saja yang terbaik buat hamba-Nya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar