Jumat, 27 Maret 2015

Bahagia

Bagiku Ada 3 Hal Yang Membuatku Takjub


Pertama, pantai.

Aku menemukan kedamaian pada suara riuh ombaknya.


Kedua, Senja.

Kurasa hampir semua orang menyukainya.

Berbagai alasan mereka punyai untuk itu.

Namun alasanku menyukainya, karena pada senja aku melayangkan pandanganku jauh ke depan.

Melalui tempat yang cukup tinggi untuk menikmatinya, aku sengaja memanjakan netraku lewat semburatnya.

Pandanganku aku layangkan jauh, lebih jauh dari kesanggupanku berjalan kaki melewatinya.


Ketiga, Puisi.

Aku bahkan tidak punya alasan untuk mengabaikannya.

Melalui keindahan aksara, dia (puisi) mampu membuatku berbahagia dalam makna sederhana.


Dan, aku harap bisa menikmati ketiga-tiganya dalam sebuah waktu bersamamu.


-ACN-

Rabu, 18 Maret 2015

Aku Menyebutnya Semu

Bagaimana aku bisa mengabadikan rasa, kalau sedikit saja salahku membuatku menghilang.
Bagaimana aku bisa menjadikan tumpuan, kalau kau sendiri tidak tau kemana harus berjalan.
Bagaimana aku bisa menilaimu sebagai jodoh, kalau aku tau kau menjadikanku sebuah persimpangan.
Bagaimana bisa?

Saat semua telah menjauh dan yang kau kejar hanyalah semu,
kau menghampiriku lagi. Seakan menanyakan hal yang sudah kau buang sudah lama.
Aku bukan sebuah halte bus yang bisa kau datangi dan kau tinggalkan untuk mencapai tujuanmu.
Kalau kau hanya mencari sempurna, kau tidak akan perna merasakannya.

Saat ini aku sudah memiliki dia, dia yang terus tinggal walaupun semua yang usang aku ceritakan.
Dia yang tidak mengganggapku sebagai halte, tetapi sebagai rumah tempat dimana dia tinggal.
Dan aku cukup menganggapmu hanyalah sebuah kenangan untuk menjadi lebih tegak.
Jadilah seorang yang bisa dijadikan tempat untuk bertahan dan bersandar tentang semua peluh dalam hidup.
Untuk sebuah cerita yang bahkan belum sempat termulai..



Tidak Peka

Mungkin hatiku sudah tertutup peluh.

Sejak kuhabiskan sedih dan air mataku saat ibu pergi untuk selamanya, semenjak itu pula aku jadi tidak peka merasakan kesedihan yang terlihat atau terdengar oleh panca inderaku.

Air mata juga sepertinya ikut-ikutan menjadi tidak responsif akan keadaan, entah mengapa aku merasa menjadi orang yang tidak peka terhadap keadaan sedih atau bisa dikatakan tidak berperasaan.

Bagiku, hari itu. Hari dimana ibu pergi, adalah hari yang kuhabiskan segalanya. Habis perasaan sedihku, habis air mataku, habis rasa belas kasihku. Aku melihat dunia saat ini tidak seperti dulu, yang aku jalani saat ini hanya mencari apa yang bisa membuatku senang. Mendapatkan apa yang ingin aku raih. 

Untuk urusan hati, aku hanya mengharapkan seseorang yang bisa menjagaku dan tidak mematahkannnya. Tidak perlu seseorang yang sempurna untuk hal itu. Kesempurnaan yang hakiki hanya milik-Nya, Tuhan Yang Esa. Segala yang dimiliki oleh manusia hanyalah titipan. Tapi sayangnya Tuhan tidak memberikan porsi yang sama pada setiap hamba-Nya. Ada yang diberikan begitu banyak kelebihan dan ada pula yang serba kekuragan. Tentu saja bukan tanpa alasan, Tuhan mengetahui apa-apa saja yang terbaik buat hamba-Nya.


Selasa, 17 Maret 2015

Cerpen 'Telepon umum'

“ya ujan, mana gak bawak jas ujan ini.. alamat harus berteduh, apes banget sih aku hari ini.”

Tiba-tiba aku nemuin bangunan telpon umum yg lama gak dipakai. Tapi takut juga kalo harus disini sampai malam, Tuhan tunda dulu ujannya.

 

Cyittttttttttt..

Suara sebuah motor tiba-tiba berhenti tepat didepanku, Tuhan mau apa dia. Rasa takut memenuhi pikiranku. Siapa cowok ini. Tiba-tiba dia membuka helmnya. Dan wow, cakep juga ne cowok. Tapi tetep aja aku gak tau dia orang baik apa malah orang.. tuh kan mikir yg macem-macem aku..

 

“ehhm.. boleh ikut neduh disini? Aku gak bawak jas ujan, dan liat ujannya yg cukup extrim jadi kayaknya aku harus neduh dehh. Boleh kan? Kok diem aja sih kamu???” tangan cowok itu menyadarkan lamunanku.

“ohh iyah gak apa-apa kok, kan ini milik umum” jawabku dengan suara gemetaran.

“dingin yah? Oh ya nama kamu siapa? Kenalin aku awan” ngulurin tangan ke arahku

“iyalah dingin, kan ujan. Jayus banget sih kamu. Aku nisa.” Balasku agak jutek

Cowok itu ngeluarin sesuatu dari dalam ranselnya, sepertinya es cream kesukaanku.

“kamu mau gak? Ini tadi aku beli, aku suka banget ma es cream ni.” Sambil membuka es cream

“kamu gila atau idiot ya? Ujan-ujan gini nawarin es cream? Mau aku beku disini apa?” timpalku dengan emosi

“kalo gak mau gak apa-apa neng, gak usah marah gitu entar cakepnya ilang loh” nyengir

Untung ujannya udah redah, aku segera beranjak dan meninggalkan tempat itu. Di sepanjang perjalanan aku teringat lagi dengan cowok tadi. Kalo diliat-liat dia lumayan juga, tapi aneh banget. Iya sangat aneh, masak ujan-ujan kok malah makan es cream.

 

Dan hampir setiap hari hujan, selalu di jam pulang kuliah. Parahnya kenapa aku lupa menaruh jas ujanku dimana. Di tempat yang sama dan dengan orang yang sama aku menunggu hujan. Kenapa dia selalu beli es cream itu? Kayaknya itu seperti bagian dari rutinitasnya deh. Dia selalu mengajakku ikut dalam cerita-ceritanya yang sebenarnya lucu sih tapi aku menahan tawa di depannya. Sudah hampir satu bulan hal itu terjadi setiap hari, entah mengapa aku jadi senang ketemu sama dia. Buat aku hujan itu indah kalo melihat  dengannya. Memasuki bulan kedua ujannya udah mulai sepi, aku selalu melihat ke tempat itu, ada yang aneh disitu tanpa dia. Apa aku merindukannya Tuhan? Kenapa aku merindukannya? Dan kenapa aku dulu berpura-pura acuh di depannya. Siang itu aku tetap duduk di tempat itu tanpa dia, sambil makan es cream yg biasa dia makan. Tiba-tiba suara yg aku kenal mengagetkanku. Yah suara itu, suara yg sangat aku rindukan, suaranya.

 

“ Neng, emang ujan yah kok berteduh disini?” dia menyindirku

“emang ada perturannya yah kalo gak ujan dilarang disini?” balasku sewot

“ yah enggak sih, terus ngapain coba ada disini sekarang? Kamu kuliah di Unitomo juga yah ternyata? Pantes kok kita selalu bareng klo berteduh disini?” sahutnya

“ yah aku iseng kok, kamu tau dari mana aku kulliah disitu? Emang aku ngasih tau kamu?” balesku.

“ bukan kamu yang bilang, tapi dari kaos yang kamu pakai itu lho ada tulisannya dan aku bisa baca dari situ neng, jurusan Informatika toh? Kalo aku fikom.” Timpalnya

“aku gak Tanya kok kamu jurusan apa.” Sahutku

“jangan jutek-jutek jadi orang ntar cakepnya ngumpet lho.. hahhaha. Aku boleh minta pin bb kamu gak neng?” rengeknya sambil senyum dan nyodorin HPnya.

Seketika aku mengetikkan Pin BB ku dan kemudian mengembalikannya. Kenapa aku merasa senang ya bisa ketemu dia lagi? Dan kenapa aku deg-degan pas dia menatapku. Banyak sekali yang gak bisa aku mengerti saat ini. Kenapa..

“ dorr, hayo ngelamun ya? Tuh es creamnya kasihan kamu anggurin jadi leleh deh.” Serunya

“iya bawel, ini aku abisin. Udah aku mau pulang, bye.” Aku meninggalkannya sambil melambaikan tangan.

 

Hari ini aku seneng banget, IPK ku bagus dan ketemu sama dia lagi. Apa? Kenapa aku kepikiran dia lagi sih. Haduh udah deh  Nisa jangan mulai. Mendingan aku nulis aja daripada mikirin orang gak jelas gitu.

Centing… tanda pesan BBM baru..

‘Hai, udah sampai rumah ya? Jangan lupa minum air putih ya kalo abis beraktifitas, biar bisa bikin badan seger. Btw nama kamu siapa? Kenalin aku awan..’

‘Iya makasih, kamu bawel banget sih jadi cowok? Kelebihan hormon X ya? Namaku nisa.’

 

Dan sejak saat itu kami sering bbm’an, dan jalan bareng. Mungkin sebuah kesalahan kalau aku mulai sayang sama dia, kita baru kenal 2 bulan tapi aku udah kayak gini. Dan aku belum tau perasaannya sama aku seperti apa? Besok dia ngajakin aku nonton bioskop, apa pantes kalau aku yang nyatain dulu ke dia? Ohhh Tuhan bantu aku…

 

“kamu cantik banget deh hari ini, apakah tuan putri siap berjalan-jalan denganku” katanya sambil senyum

“udah ayo berangkat bawel, entar tiketnya abis lho” balasku sambil menaiki motornya.

 Kami nonton dan makan malam hari itu, dan dia nembak aku. Syukurlah dia juga punya perasaan yg sama sepertiku. Kami jadian malam itu, dan aku seneng banget tentunya. Terima kasih Tuhan atas bantuan-Mu. Hubungan kami sangat baik dan dia type cow yang aku cari selama ini.

 

Tapi ketika memasuki bulan ke-8 dia terpilih sebagai mahasiswa yg mendapatkan beasiswa dan  dikirim ke jepang. Tentu saja itu kabar yg baik dan sekaligus membuatku sedih. Tapi aku gak boleh egois, dia berhak menentukan masa depannya lebih baik. Sore itu aku mengantarnya ke bandara, dia ngeyakinin aku kalau kita pasti bisa jalani ini. Aku percaya sama dia dan aku tetep berdoa sama Tuhan untuk menunjukkan jalan terbaiknya. 2, 3 bulan dia masih aktif hubungi aku. Tapi ketika masuk bulan ke-4 dia gak pernah hubungi aku, dan nomer Hp’nya gak aktif lagi. Aku bingung Tuhan, antara setia menunggunya atau move on. Tiap hari aku mengunjungi tempat pertama kami ketemu dan aku makan es cream kesukaan kami. Mungkin dengan seperti itu aku bisa sedikit ngobatin rasa rindu aku sama dia. Jaga dia Tuhan, dimana pun dia berada meskipun mungkin jalan-Mu yang terbaik seperti ini. Aku ikhlas Tuhan. Cinta ini memang sudah membaur dengan jiwaku, mengenalnya sangat membuat hidupku lebih bersemangat. Aku aku terus menunggumu disini, sampai ada seseorang yang mampu membuatku untuk pergi dari sini.

Selembar Kisah Pilu, Ibu..

malaikat yg sengaja Tuhan berikan untukku..


Aku ingin menulis semua tentang ibu, tp aku takut harus membabat seluruh belantara Kalimantan untuk membuat kertas. Ibu, tahukah engkau sangat berarti untuk hidupku. Aku menyadarinya justru setelah aku kehilanganmu. Engkau seperti mata kananku, enggak lebih dari itu. Engkau seperti jiwaku, dan sekarang terasa sangat kosong tanpamu di hidupku. Banyak sekali pengorbananmu ibu untuk hidupku, sampai engkau rela menjadi buruh cuci waktu keadaan tersulit dulu. Ibu aku butuh dekapanmu seperti aku butuh udara, aku butuh ketulusanmu seperti aku butuh cahaya untuk berjalan, aku butuh engkau ibu lebih dari yang aku bayangkan sebelumnya. Dan tahu kah engkau ibu, engkau satu-satunya orang yang selalu menyayangiku tanpa aku minta, selalu mendoakanku tanpa aku suruh, selalu menungguku pulang di depan gang rumah tanpa aku perintah. Kenapa engkau pergi tanpa menungguku membahagiakanmu, seperti yang perna kita bicarakan sebelumnya..


Aku menulis ini dengan tangisan yang gak bisa aku bendung ibu, dengan rasa kangen yang gak bisa aku lukiskan, dengan rasa sakit yang gak bisa akujelaskan. Mungkin aku terlalu lemah tanpamu ibu, aku terlalu terbiasa dengan hadirmu. Engkaulah orang pertama yg aku lihat ketika aku membuka mata, dan orang yg terakhir aku lihat disetiap aku menutup mata. Engkau satu-satunya orang yg mampu membuatku merasa nyaman disetiap rasa takut mendatangiku. Kesabaranmu begitu mengesankan bagiku, sampai disaat yg benar-benar sulit dan sakit engkau sembunyikan dengan rapi. Ibu aku merindukanmu disetiap nafasku..


Dihari terakhirmu ibu, aku seperti kehilangan nyawaku. Itu adalah hari paling menyedihkan di sepanjang hidupku. Kenapa engkau meninggalkanku tanpa aba-aba ibu? Kenapa? Kenapa engkau tidak memberikanku kesempatan untuk sedikit membuatmu bahagia? Aku sangat ingin melakukannya. Bahkan engkau pergi disaat aku tidak ada di sampingmu, disaat aku mencari darah yg engkau butuhkan. Maafkan aku ibu, karena engkau terlalu lama menunggu. Harusnya engkau mengambil saja semua darahku ibu, tp kenapa engkau tidak memintanya kepadaku? Dan bahkan dihari terakhir itu, engkau masih saja mengkhawatirkanku tentang bagaimana hidupku setelah engkau tinggal pergi. Kalau Tuhan memberikan satu permintaan khusus, aku ingin diberikan kesempatan untuk membahagiakanmu sepenuhnya. Ibu aku sangat menyayangimu lebih dari siapapun, lebih dari apapun, dan lebih dari segalaya. Aku sangatmencintaimu ibu, mata kananku..